Perjalanan Beasiswaku #2: Mendaftar Beasiswa & Tips Mengoptimalkan Berkas

Juli 18, 2023

 

Perjalanan beasiswa Belanda

Hallo, melanjutkan postinganku yang Perjalanan Beasiswaku #1:  Cara Mendaftar Kampus & Tips Motivation Letter kemarin, kali ini aku akan menjelaskan langkah-langkahku mendaftar beasiswa setelah mendapat LoA (Letter of Acceptance) dari kampus tujuanku.

Tapi sebelumnya, aku tidak bosan mengingatkan kalau kamu berniat mendaftar beasiswa, daftarlah kampus sedini mungkin. Paling lambat bulan Desember sebelum tahun ajaran yang kamu minati.  Terutama kalau beasiswa yang kamu daftar mensyaratkan LoA seperti beasiswaku, University of Twente Scholarship. Ya meskipun akhirnya aku dapat beasiswa, tapi tolong belajarlah dari kesalahanku.

1. Baru dapat LoA di akhir Maret 2019

Jadi, karena satu dan lain hal, aku baru bisa mendaftar awal Maret 2019, padahal aku rencana kuliah di bulan September 2019. Belum nyari beasiswa dan printilannya hehe. Ngawur banget kan? Makanya ngos-ngosan banget waktu itu. Kalian jangan sampai.

Tapi alhamdulillahnya, meskipun serba mendadak dan penuh drama, akhirnya aku dapat LoA di tanggal 22 Maret 2019.

 

Perjalanan beasiswa Belanda

Setelah menerima surat ini, aku segera accept offerku di OSIRIS biar bisa segera ngurus keperluan administrasi lain, terutama visa. Tapi, dramanya adalah, karena pengurusan visa itu butuh bukti kemampuan finansial untuk hidup di Belanda (sementara aku betul-betul bergantung pada beasiswa), visa baru bisa diurus setelah aku positif dapat beasiswa dan dapat bukti-buktinya. Jadi ya ngga bisa ngapa-ngapain selain accept offer.
 
Sebenernya ada sih yang bisa diurus. Ngirim hard copy segala berkas pendaftaran ke student service kampus. Tapi, berhubung aku ngga punya banyak duit dan sayang banget buat bayar pos internasional, rencananya berkasnya mau aku kasih setelah aku sampai di Belanda aja. Toh yang penting ngasihinnya sebelum tahun ajaran baru dimulai (1 September 2019). Jadi aku fokus daftar beasiswa aja biar bisa segera ngurus visa.

2.  Daftar beasiswa yang ngga pakai ribet

Berhubung aku daftar dan diterimanya mepet BANGET, banyak beasiswa yang udah tutup. Udah siap-siap ke kemungkinan terburuk kalau aku ngga akan berangkat. Tapi alhamdulillahnya, masih ada University of Twente Scholarship. Alhamdulillahnya lagi juga, pas aku cek di websitenya Nuffic Neso Indonesia, masih ada 2 beasiswa yang bisa aku lamar. Holland Scholarship sama Orange Tulip Scholarship. 

Sebenernya, ketiga beasiswa itu yang mengelola dan memutuskan sepenuhnya ya kampus masing-masing. Cuma, kalau Holland Scholarship sama Orange Tulip Scholarship, daftarnya harus lewat Nuffic Neso, walaupun yang menyeleksi juga tetep kampus tujuan kita. 

Holland Scholarship waktu itu nilainya sebesar 5.000 euro. Nah kalau Orange Tulip Scholarship, beda-beda tiap kampus. Dan University of Twente waktu itu adalah satu-satunya universitas Belanda yang menyediakan skema beasiswa penuh untuk Orange Tulip Scholarship (25.000 euro). 

Mungkin tergantung kemampuan masing-masing kampus kali ya. Ngga heran Twente berani ngasih banyak. Karena Twente termasuk kampus terkaya di Belanda berkat inovasi-inovasinya. Terjamin lah pokoknya nasibmu insha Allah kalau di Twente.

Dan yang paling aku suka dari beasiswa Belanda adalah, daftarnya ngga ribet sama sekali. Berkas buat daftar beasiswa sama persis sama berkas yang dipakai buat dapat LoA kampus. Ngga pakai wawancara atau tes apapun lagi juga. Jadi murni seleksi berkas yang dipakai buat daftar univ aja. Dan asiknya lagi, mereka selalu terbuka. Lolos ngga lolos ya bakalan dikabarin, bukan yang digantung tanpa kepastian aja ngono lho. Kelihatannya enak banget ya, simple, ngga rempong. Ya ada enaknya, tapi ada juga ruginya kalau sistemnya begini. 

Ruginya, kalau berkas kita kurang mentereng atau susah buat dinilai, kita ngga punya kesempatan "menjual diri" di sesi wawancara. Pertimbangannya murni dilihat dari prestasi yang kita tulis di CV sama motivation letter. Jadi, berkas kita emang kudu optimal kekuatan, format dan tampilannya biar enak dinilai ngono lho. Dan alhamdulillah, aku dinyatakan lolos beasiswa full di tanggal 27 Mei 2019 melalui skema University of Twente Scholarship.

3. Tips mengoptimalkan berkas

Satu hal yang harus kamu ingat ketika berurusan sama orang Belanda. Mereka sangat direct, ngga suka segala hal yang bertele-tele. Biar CVmu menarik bagi orang Belanda, usahakan maksimal panjangnya 2 halaman A4 dan jangan nulis hal omong kosong. Meskipun singkat, CVmu harus menggambarkan peran konkret dan keaktifanmu selama kuliah atau bekerja (bagi yang sudah). Bukan sekedar penjabaran jobdesc aja. Ini contohnya:

Perjalanan beasiswa Belanda

 Jadi, ketika menyebutkan riwayat pendidikan, jangan cuma ditulis nama univ dan tahun lulus aja. Tapi tulis juga judul skripsimu, IP, prestasi dan aktivitasmu selama kuliah secara singkat tapi bisa menggambarkan kualitasmu ngono lho. Demikian juga pengalaman kerja. Misal kamu pernah kerja jadi staff HRD, jangan sekedar tulis jobdescnya, sebutkan kontribusi nyatamu selama bekerja biar CVmu bisa dinilai. Bukan sekedar penggugur administrasi. 

Jangan lupakan juga motivation letter. Harus singkat tapi jelas menggambarkan dirimu. Tips menulis motivation letter sudah dibahas di postingan sebelum ini ya. Tipsnya bisa dibaca di Perjalanan Beasiswaku #1:  Cara Mendaftar Kampus & Tips Motivation Letter.

Baiklah, sekian dulu tulisanku kali ini ya. Semoga bermanfaat dan bisa diambil pelajaran. Tetap optimis, semangat, dan semoga sukses selalu ya!


You Might Also Like

0 comments

Popular Posts